Berita Dari Hendra

Memberikan Ilmu Yang Bermanfaat

Voting yuk

2 Komentar »

Ratib Al Athos

RATIB AL-IMAM AL-QUTHUB AL-HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL-‘ATTHOS
??????? ?????? ????? ?????????? ???? ????? ??????? ???? ??????
Wahai orang-orang yang beriman perbanyaklah ingatan kamu kepada Allah SWT dan pujilah Dia pagi dan petang (Al-Ahzab : 41 ) Makna Ratib Kata Ratib diambil dari kata Rotaba Yartubu Rotban Rutuuban atau Tarottaba Yatarottabu Tarottuban, yang berarti tetap atau tidak bergerak. Jadi kata Ratib menurut Lughot (bahasa) artinya kokoh atau yang tetap. Sedangkan menurut istilah, Ratib diambil dari kata Tartiibul-Harsi Lil-Himaayah ( penjagaan secara rutin untuk melindungi sesuatu atau seseorang ). Apabila disebuah tempat ada bala tentara yang berjaga guna melindungi masyarakat, maka mereka disebut Rutbah, dan jika yang berjaga satu orang maka disebut Ratib, para ulama berpendapat makna Ratib adalah kumpulan atau himpunan ayat-ayat Al-qur’an dan untaian kalimat-kailmat dzikir yang lazim diamalkan atau dibaca secara berulang-ulang sebagai salah satu cara untuk bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah SWT) Keberkatan Ratib Al-Habib Umar Bin Abdurrahman Al-Atthos.
Ratib Habib Umar yang dibari nama Azizul Manl Wafathul Babil Wisol seperti dikatakan oleh Al-Habib Ali bin Hasan AL-Atthos di dalam kitab Al-Qirthos bagian kedua juz pertama : “ Ratib Habib Umar merupakan hadiah yang tertinggi dari Allah bagi umat Islam melalui Habib Umar “.ketahuilah bahwa Ratib yang besar dan Hizib yang kokoh dan sumber yang murni ini, yaitu Ratib Habib Umar Al-Atthos terkandung didalamnya rahasia-rahasia dan Nur-Nur, manfaat yang besar, faedah-faedah yang luar biasa tinggi nilainya, dan tak dapat diperkirakan batas kekuatan pemeliharaanya.< Al-Habib Ali bin Hasan Al-Atthos mengatakan sepengetahuan kami Al-Habib Umar tidak ada sesuatu yang di tinggalkannya berupa bekas peninggalan ( seperti kitab atau masjid terkecuali Ratib ini ) maka dengan jelas Ratib ini diintisabkan kepada pribadinya langsung.
Tinggalkan komentar »

Kamar dan Otak

KAMAR yang berantakan dan penuh barang tidak berguna merupakan cerminan kondisi otak penghuninya. pusat Kesehatan Jiwa The Institute of Living, AS, menyatakan itu hal juga merupakan refleksi bahwa sang penghuni kamar sulit mengambil keputusan penting dalam hidupnya. peneliti membuktikan itu dengan menggunakan pemindai (FMRI) untuk memeriksa aktivitas otak 43 responden yang kesulitan memilah barang yang tidak berguna. mereka diminta membuat keputusan untuk menjaga ataukah membuangnya. kelompok yang membuang lebih sedikit sampah ternyata banyak mengalami kecemasan, keraguan, dan sedikit kesedihan daripada kelompok lain. otak mereka mengalami lonjakan aktivitas korteksinterior cingualate dan korteks insuler kiri, yang berperan memutus relevansi dan signifikansi sebuah keputusan.

Tinggalkan komentar »

Anak Mendengkur dan Emosi

ANAK kecil yang memiliki kebiasaan mendengkur saat
tidur pada malam hari diyakini secara ilmiah akan
mengalami masalah emosi dan tingkah laku ketika
usianya bertambah. Demikian hasil pengamatan peneliti
New York’s Albert Einstein College Of Medicine terhadap
10 ribu anak — mulai usia tujuh tahun. Dari jumlah tersebut, 45% anak memiliki persoalan mendengkur
dan gangguan pernafasan saat tidur, 8% diantaranya
mengalami gangguan itu sejak masih balita, sekitar usia
2-3 tahun. Selain itu, tim yang dippimpin Karen Bonuck
menemukan 18% anak memiliki tingkat gangguan
terburuk. “Orangtua harus memperhatikan pernafasan anak-anak mereka dan jika menemukan gangguan,
seharusnya mengonsultasikan ke dokter”, kata Bonuck
pada laporan yang dipublikasikan lewat jurnal
Pediatrics. (Reuters/DK/X-5)

Tinggalkan komentar »

Tawassul

شىءلله.. شىءلله.. شىءلله حَبِيْبَنَا عَلْوِى

مُنْطَهَ الْمَطَالِبْ سَيِّدُنَا غَوْثُ الْمَوْحُبْ

سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمْ اَلْوَلِيِّ اْلاَعْظَمْ

حَبِيْبَنَا الْوَلِيِّ اْلاَعْظَمْ فَاَغِثْنَا

سَقَافَنَا قُطْبُ الْغَوْثْ سُلْطًا اَلْوَالِى

سَقَافَنَا الْغَوْثُ كُلَّ الْوَالِى سَيِّدِنَا

حَبِيْبَنَا عُمَرْ اَلْمُحْضَارْ لِشَّدَاءِـدْ

هِزَبْرَ اْلاُسُوْدُ الْمُحْضَارْ لِشَّدَاءِـدْ لِشَّدَاءِـدْ

الْعَيْدَرُوْسُ الاَكْبَرْ قُطْبُ الْمَلاَءْ الْعَيْدَرُوسْ

الْعَيْدَرُوْسُ الاَكْبَرْ مُحْيِ النُّفُوسْ شَمْسِ الشُّمُوسْ

الشَّيخْ عَلِى السَّكْرَانْ قُطْبُ الْمَسْتُورْ سَيِّدِى

الشَّيخْ عَلِى السَّكْرَانْ الْوَلِى إِبْنِ الْوَلِى

وَبِا لأَوْلِيَاءْ فِى جَوَءْ إِرْفَعْ كُلَّ الْبَلاَءْ

مِنْهُمُ بَاعَلَوِى وَعَبْدُ الْمَلِكْ فَاَنْظُرْنَا

وَحُسَيْنُنَا بِا لْعِدْرُوْسُنَا بِا جَكَرْتَ وَ لِيُّنَا

وَقُطْبُ الْمَكِينْ بِنْ مُحْسِنْ فِى بوْغَرْ طَبِيْبُنَا

وَبِا اَوْلادِهْ مُحْسِنْ وَحْسِينْ وَزَينْ أُنْظُرْ إِلَيْنَا

وَ أَبُوْبَكَرْ وَنُورْ أَصْلِحْ صُدُوْرُ نَا

وَ فِى تغلْ بِا الْحَدَّادْ مُحَمَّدْ حَبِيْبَنَا

وَ فِى فكَالعنْ بِا الْعَطَّاسْ أَحْمَدْ صَفِيُّنَا

وَ بِاغرْسِكْ سَقَّافُنَا أَبُوْبَكَرْ قُدْوَاتُنَا

وَ فِى مَلَغ سُيُوْفُنَا وَ قُطْبُنَا وَإِمَامُنَا

وَسُلْطَنُنَا عَبْدُ الْقَادِرْ وَعَبْدُاللهْ حَبِيْبَنَا

وَ فِى تَغغُلْ يَسِّرْ كُلَّ عُمُورْ حَبِيبْ صَلِحْ تَغغُلْ

وَ جَمِيعْ بَا عَلَوِى أَغِثْنَا أَغِثْنَا

مِنْ كُلِّ بَلِيَّتِ اُنْظُرْنَا يَا رَبَّنَ

Tinggalkan komentar »

Bidadari Surga, Bidadari Bumi

“Kalau bidadari surga sih selalu wangi dan anggun. Tubuhnya selalu molek, nggak bakal gendut, bau bawang atau keriput…”

Waktu pertama penulis mengutarakan niat kepada Abah untuk mencari calon pendamping hidup, Abah menasihatkan supaya calon yang dipilih nanti haruslah wanita yang : taat menjalankan perintah agama, rupawan wajah dan sehat jasmaninya, berasal dari keturunan baik-baik, serta berharta. “Begitulah sabda Rasulullah, Nak.” wasiat Abah kepada penulis ketika itu. Dijelaskan pula oleh Abah, bahwa ketaatan beragamalah yang paling utama diantara empat kriteria yang diungkapkan Rasulullah SAW. “Wanita yang taat menjalankan perintah agama adalah calon bidadari di surga nanti. Gitu, kata Ustadz Husin.” timpal Ummi sambil meletakkan sepiring ulen goreng.

”Sebelum jadi bidadari di surga, jadi bidadari untuk suami dan anak-anaknya dulu dong, Mi.” jawab penulis.

“Ya, pasti. Cuma, ada bedanya ‘bidadari surga’ sama ‘bidadari bumi’, Bang.”

“Apa bedanya, Mi ?”timpal Abah dan penulis hampir bersamaan.

Rupanya Nurul, adik penulis, memperhatikan pembicaraan kami sejak tadi. Dari sudut ruangan, tempat ia khusyuk menekuri La Tahzan-nya, Nurul menjawab pertanyaan Abah dan penulis : “Kalau bidadari surga sih selalu wangi dan anggun. Tubuhnya selalu molek, nggak bakal gendut, bau bawang atau keriput. Kalau bidadari bumi nggak begitu, Bang. Kadangkala wangi, kadangkala bau. Kadangkala langsing, kadangkala gemuk. Dan perlu Abang ingat, semua bidadari bumi, kalau usianya sudah sampai 50 tahun kulitnya pasti keriput !”

Haibat betul anak Ummi. Nelen buku tiap hari sih !” kelakar Abah.

***

Lumrah bagi wanita untuk tampil bersih-wangi, dengan parfum termahal sekalipun. Untuk menyenangkan suami, anak atau handai-taulan, tak ada salahnya wanita berusaha tampil anggun dan menarik. Berkerudung batik, pakai kain etnik, asalkan waktu dan sikon memungkinkan, tentu tidak jadi masalah.

Namun ada juga waktunya bagi wanita, untuk melupakan soal pernak-pernik penampilan itu. Yaitu, tatkala pekerjaan-pekerjaan rumahtangga telah menunggu kecekatan tangan dan ketulusan hati, siap untuk mereka kerjakan. Dalam Kompilasi Hukum Islam Indonesia sendiri disebutkan : kewajiban utama seorang istri adalah berbakti lahir dan batin kepada suami, dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum islam ; serta wajib menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya. Termasuk dalam kewajiban nomor dua ini adalah memelihara anak dengan telaten- penuh kasih sayang.

Saat menekuni kewajibannya, wanita harus rela bersimbah keringat, berkuah peluh, jauh dari oriflame atau davidoff-nya. Begitu pula saat ia menjerang air, menanak nasi, menyiapkan rempah-rempah pelezat bagi makanan keluarga. Jari-jari tangannya bisa menguning oleh warna kunyit, bisa merasa panas oleh lada atau bubuk merica, bahkan tak jarang, jari-jari lentiknya itu melepuh perih- disaat tangannya keliru menyentuh teko penjerangan air.

Kewajiban wanita bertambah berat ketika ia ditakdirkan mengandung. Selama kurang lebih 40 minggu ia mesti merawat kesehatan janin, sembari disibukkan oleh kegiatan harian melayani keluarga, terutama : sang suami. Sambil menahan rasa mual serta penat yang sangat, ia dituntut untuk bersabar melaksanakan kewajibannya.

Setelah menjadi seorang ibu, mulai dari usia jabang bayi satu hari, bertambah lagi amanah seorang wanita. Jika sebelumnya ia hanya disibukkan oleh pekerjaan mengurus suami, maka kini ia disibukkan pula oleh ikhtiar mengurus bayi. Ikhtiar tersebut bahkan tak mengenal jam istirahat. Jam berapapun anak menangis, ngompol, be-a-be (buang air besar), sang ibu harus siap bekerja- menyusui sang anak, meredakan tangisnya, membersihkan tilamnya, serta mengganti pampers yang penuh.

Sampai anak merangkak remaja, beranjak dewasa, menemukan pasangan hidupnya, bahkan hingga sang anak mengaruniainya cucu, kasih sayang seorang ibu tak pernah sedikitpun berkurang. Ibulah yang selalu mencemaskan kesehatan dan keselamatan anaknya. Pun ketika sang anak masih balita, remaja belia atau ketika sudah dewasa. Karena berat amanah dan mulianya seorang ibu ketika tuntas menunaikan amanahnya terhadap sang anak, Rasulullah SAW menempatkan posisi ibu dalam posisi yang sedemikian terhormat. “Ibumu, ibumu, ibumu.” begitulah Rasulullah SAW menjawab pertanyaan seorang sahabat, saat sahabat bertanya : siapa orang yang pertama, kedua dan ketiga, yang harus dihormatinya. Dan barulah pada kali yang keempat, Rasulullah SAW menjawab : “Ayahmu.”

***

“Ummi harus rela mengerjakan semua kewajiban. Sebab itulah bekal Ummi, agar kelak Ummi bisa menjadi bidadari di surga.” ucap Ummi.

“Ya, betul, Mi. Abang kira Ummi sudah berhasil menjadi bidadari bagi Abah dan anak-anak.”balas penulis pelan.

“Jadi nggak betul, Bang, kalau ada yang menganggap perempuan itu tidak setara dengan laki-laki. Seorang bapak nyatanya cuma duduk di nomor empat. 1, 2, 3-nya diborong semua sama ibu.”tambah Abah usai menggigit sepotong ulen.”Dan setelah Abang tahu perbedaan bidadari surga dengan bidadari bumi, Abang dan Nurul perlu juga tahu apa persamaannya.”

“Apa persamaannya, Bah ?”

“Meski kecantikannya hanya berlaku semasa ia masih gadis belia, walau kulit sudah keriput dan badannya tidak semolek dulu, tetapi cahaya yang terpancar dari raut dan pembawaan seorang ‘bidadari bumi’ nggak ada bedanya dengan ‘bidadari surga’. Yakni, tidak pernah mengenal tua dan tidak pernah mengenal masa. ”

Wah, Haibat betul nih suaminya Ummi. Nelen ketan tiap hari sih !” goda Nurul membalas kelakaran Abah.

Tinggalkan komentar »

Cantiknya Muslimah Jika di Khitan

Bagi sebagian masyarakat khitan bagi anak laki-laki adalah sebuah perkara yang sangat wajar. Namun tidak demikian dengan khitan wanita, mereka masih menganggapnya tabu atau menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan, bahkan oleh sebagian kalangan khitan wanita adalah tindakan kriminal yang harus dilarang, seperti yang diserukan oleh gerakan feminisme, LSM-LSM asing, Population Council, PBB, WHO dan lain-lainnya. Larangan khitan wanita juga diputuskan dalam Konferensi Kaum Wanita sedunia di Beijing China (1995). Di Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa, kaum feminis telah berhasil mendorong pemerintah membuat undang-undang larangan sunat perempuan. Di Belanda, khitan pada perempuan diancam hukuman 12 tahun. Pelarang khitan perempuan juga pernah diterapkan di Negara Mesir yang nota benenya adalah Negara Islam. ( Muhammad Sayyid as-Syanawi, Khitan al-Banat baina as-Syar’I wa at-Thibbi, hal. 92-95 ). Di Indonesia sendiri khitan wanita juga dilarang secara legal, dengan alasan bahwa Indonesia tidak akan bisa melepaskan diri dari ketentuan WHO, dan karena khitan wanita dinilai bertentangan dengan HAM. Padahal mereka orang-orang Barat sengaja melarang khitan wanita dengan tujuan agar para wanita Islam tidak terkendalikan syahwat mereka, sehingga praktek perzinaan meluas dan terjadi di mana-mana, dan ini telah terbukti.

Bagamaimana sebenarnya hukum khitan wanita di dalam Islam, berikut keterangannya :

Pengertian Khitan

Khitan secara bahasa diambil dari kata “ khotana “ yang berarti memotong. Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar, sehingga menjadi terbuka. Sedangkan khitan bagi perempuan adalah memotong sedikit kulit (selaput) yang menutupi ujung klitoris (preputium clitoris) atau membuang sedikit dari bagian klitoris (kelentit) atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva bagian atas kemaluan perempuan. Khitan bagi laki-laki dinamakan juga I’zar dan bagi perempuan disebut khafd.

Hukum Khitan Wanita.

Para ulama sepakat bahwa khitan wanita secara umum ada di dalam Syari’at Islam. (al-Bayan min Al Azhar as-Syarif: 2/18) Tetapi mereka berbeda pendapat tentang satatus hukumnya, apakah wajib, sunnah, ataupun hanya anjuran dan suatu kehormatan. Hal ini disebabkan dalil-dalil yang menerangkan tentang khitan wanita sangat sedikit dan tidak tegas, sehingga memberikan ruangan bagi para ulama untuk berbeda pendapat. Diantara dalil-dalil tentang khitan wanita adalah sebagai berikut :

Pertama :

Hadist Abu Hurairah ra. bahwasanya Rosulullah saw bersabda :

“Lima hal yang termasuk fitroh yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Bagi yang mewajibkan khitan wanita mengatakan bahwa arti “ fitrah “ dalam hadist di atas perikehidupan yang dipilih oleh para nabi dan disepakati oleh semua Syari’at, atau bisa disebut agama, sehingga menunjukkan kewajiban. Sebaliknya yang berpendapat sunnah mengatakan bahwa khitan dalam hadist tersebut disebut bersamaan dengan amalan-amalan yang status hukumnya adalah sunnah, seperti memotong kumis, memotong kuku dan seterusnya, sehingga hukumnya-pun menjadi sunnah.

Kedua :

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (Hadist Shohih Riwayat Tirmidzi , Ibnu Majah dan Ahmad).

Kelompok yang berpendapat wajib mengatakan bahwa hadist di atas menyebut dua khitan yang bertemu, maksudnya adalah kemaluan laki-laki yang dikhitan dan kemaluan perempuan yang dikhitan. Hal ini secara otomatis menunjukkan bahwa khitan wanita hukumnya wajib. Sedangkan bagi yang berpendapat khitan wanita adalah sunnah mengatakan bahwa hadist tersebut tidak tegas menyatakan kewajiban khitan bagi perempuan. (Asy Syaukani, Nailul Author : 1/147)

Ketiga :

Hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya Rosulullah saw bersabda kepada kepada Ummu ‘Athiyah :

”Apabila engkau mengkhitan wanita potonglang sedikit, dan janganlah berlebihan, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”(HR.Abu Daud dan Baihaqi ) .

“Bagi yang mewajibkan khitan wanita, menganggap bahwa hadist di atas derajatnya ‘Hasan “, sedang yang menyatakan sunnah atau kehormatan wanita menyatakan bahwa hadist tersebut lemah.

Keempat :

“ Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kehormatan bagi wanita. “ (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Ini adalah dalil yang digunakan oleh pihak yang mengatakan bahwa khitan wanita bukanlah wajib dan sunnah, akan tetapi kehormatan. Hadist ini dinyatakan lemah karena di dalamnya ada rawi yang bernama Hajaj bin Arthoh.

Dari beberapa hadist di atas, sangat wajar jika para ulama berbeda pendapat tentang hukum khitan wanita. Tapi yang jelas semuanya mengatakan bahwa khitan wanita ada dasarnya di dalam Islam, walaupun harus diakui bahwa sebagian dalilnya masih samar-samar. Perbedaan para ulama di atas di dalam memandang khitan wanita harus disikapi dengan lapang dada, barangkali di dalam perbedaan pendapat tersebut ada hikmahnya, diantaranya bahwa keadaan organ wanita (klitorisnya) antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Bagi yang mempunyai klitoris yang besar dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari dan mebuatnya tidak pernah tenang karena seringnya kena rangsangan dan dikhawatirkan akan menjeremuskannya ke dalam tindakan yang keji seperti berzina, maka bagi wanita tersebut khitan adalah wajib. Sedang bagi wanita yang klitoris berukuran sedang dan tertutup dengan selaput kulit, maka khitan baginya sunnah karena akan menjadikannya lebih baik dan lebih dicintai oleh suaminya sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist diatas, sekaligus akan membersihkan kotoran-kotoran yang berada dibalik klistorisnya. Adapun wanita yang mempunyai klitoris kecil dan tidak tertutup dengan kulit, maka khitan baginya adalah kehormatan. ( Ridho Abdul Hamid, Imta’ul Khilan bi ar-Raddi ‘ala man Ankara al-Khitan, hal. 21-22 )

Praktek Khitan di Masyarakat Dunia

Di tengah-tengah masyarakat, khitan wanita dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah :

– Memotong sedikit kulit (selaput) yang menutupi ujung klistoris (preputium clitoris). Cara ini dianjurkan dalam Islam, karena akan membersihkan kotoran-kotoran putih yang bersembunyi di balik kulit tersebut atau menempel di bagian klistorisnya atau yang sering disebut ( smegma ), sekaligus akan membuat wanita tidak frigid dan bisa mencapai orgasme ketika melakukan hubungan seks dengan suaminya, karena klistorisnya terbuka. Bahkan anehnya di sebagian Negara-negara Barat khitan perempuan semacam ini, mulai populer. Di sana klinik-klinik kesehatan seksual secara gencar mengiklankan clitoral hood removal (membuang kulit penutup klitoris).

– Menghilangkan sebagian kecil dari klistoris, jika memang klistorisnya terlalu besar dan menonjol. Ini bertujuan untuk mengurangi hasrat seks wanita yang begitu besar dan membuatnya menjadi lebih tenang dan disenangi oleh suami.

– Menghilangkan semua klitoris dan semua bagian dari bibir kemaluan dalam (labium minora). Cara ini sering disebut infibulation Ini dilarang dalam Islam, karena akan menyiksa wanita dan membuatnya tidak punya hasrat terhadap laik-laki. Cara ini sering dilakukan di Negara-negara Afrika, begitu juga dipraktekan pada zaman Fir’aun, karena mereka mengira bahwa wanita adalah penggoda laki-laki maka ada anggapan jika bagian klitoris wanita di sunat akan menurunkan kadar libido perempuan dan ini mengakibatkan wanita menjadi frigid karena berkurangnya kadar rangsangan pada klitoris.

– Menghilangkan semua klistoris, dan semua bagian dari bibir kemaluan dalam (labium minora), begitu juga sepasang bibir kemaluan luar (labium mayora). Ini sering disebut clitoridectomy (pemotongan klitoris penuh ujung pembuluh saraf) Ini juga dilarang dalam Islam, karena menyiksa wanita.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa 97,6 % khitan di Mesir merujuk kepada model kedua, dan 1,6 % merujuk pada model pertama. Sedang model ketiga/ keempat hanya 4 % saja. (DR. Maryam Ibrahim Hindi , Misteri dibalik Khitan Wanita, hal 17 dan 101)

Di Indonesia sendiri praktek khitan pada wanita sering kali salah dalam tekniknya, karena cuma dilakukan secara simbolis dengan sedikit menggores klitoris sampai berdarah, atau menyuntik klitoris, atau bahkan hanya menempelkan kapas yang berwarna kuning pada klistoris, atau sepotong kunyit diruncingkan kemudian ditorehkan pada klitoris anak, bahkan di daerah tertentu di luar Jawa, ada yang menggunakan batu permata yang digosokkan ke bagian tertentu klitoris anak. Itu semua hakekatnya tidak atau belum dikhitan.

Hikmah Pengkhitanan Wanita

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hikmah khitan bagi laki-laki adalah mensucikan mereka dari najis yang tertahan pada kulup kemaluan. Sedangkan hikmah khitan bagi wanita adalah untuk menyederhanakan syahwatnya, sesungguhnya kalau tidak wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan menggejolak.” (Fatawa Al-Kubra, I/273).

Beliau –rahimahullah- juga berkata, “Hendaknya wanita juga dikhitan, yaitu dengan cara memotong sedikit kulit bagian atas kemaluannya yang menyerupai cengger ayam (klitoris).”

 

Tinggalkan komentar »